Kangol: Lebih dari Sekadar Topi, Menelusuri Sejarahnya sebagai Simbol Budaya Pop – Ketika berbicara tentang fashion ikonik, nama Kangol hampir selalu muncul sebagai salah satu merek topi yang memiliki pengaruh besar di dunia budaya populer. Lebih dari sekadar pelindung kepala, Kangol telah menjelma menjadi simbol identitas, gaya hidup, bahkan bagian dari ekspresi budaya yang lintas generasi. Dari panggung musik hip-hop hingga runway mode internasional, Kangol telah membuktikan dirinya sebagai merek yang tak lekang oleh waktu.
Artikel ini akan mengulas lebih dalam tentang bagaimana Kangol berkembang, bagaimana topi ini merajai berbagai subkultur, serta alasan mengapa hingga kini Kangol tetap menjadi pilihan fashion yang relevan.
Sejarah Awal Kangol dan Perjalanannya ke Dunia Fashion
Kangol didirikan pada tahun 1938 oleh Jacques Spreiregen, seorang imigran asal Perancis yang tinggal di Inggris. Nama Kangol sendiri diambil dari kombinasi kata “knitting” (rajut), “angora” (jenis wol), dan “wool” (bulu domba). Awalnya, merek ini fokus memproduksi topi berbahan rajut untuk kebutuhan militer Inggris pada Perang Dunia II. Bahkan, prajurit terkenal seperti Jenderal Montgomery kerap terlihat mengenakan topi Kangol berjenis beret, sehingga menambah reputasi merek ini.
Memasuki era 1960-an, Kangol mulai beralih ke pasar fashion. Mereka memperluas desain dari sekadar beret militer ke berbagai jenis topi seperti flat cap, bucket hat, hingga trilby. Puncaknya, pada dekade 1980-an, logo kanguru resmi diperkenalkan. Menariknya, logo ini tidak terkait dengan Australia, melainkan dipilih karena konsumen Amerika sering salah mengira Kangol berasal dari sana. Sejak saat itu, logo kanguru menjadi identitas visual yang melekat kuat pada merek ini.
Kangol dalam Budaya Pop: Dari Beatles hingga Hip-Hop
Salah satu faktor terbesar yang membuat Kangol begitu populer adalah keterkaitannya dengan dunia musik dan budaya pop.
The Beatles dan Popularitas di Era 1960-an
Kangol pertama kali mendapatkan sorotan internasional ketika The Beatles mengenakan topi merek ini dalam beberapa penampilan publik. Saat itu, Kangol dianggap sebagai simbol gaya muda Inggris yang penuh energi, sejalan dengan fenomena “British Invasion” di dunia musik.
Ikon Hip-Hop 1980-an dan 1990-an
Kebangkitan Kangol dalam dunia fashion global terjadi pada era 1980-an ketika topi ini diadopsi oleh komunitas hip-hop di Amerika. Rapper legendaris LL Cool J hampir selalu tampil dengan Kangol bucket hat, menjadikannya ikon budaya jalanan. Tidak hanya LL Cool J, kelompok musik seperti Run-D.M.C. dan para b-boy juga menjadikan Kangol sebagai bagian penting dari estetika hip-hop.
Kangol menjadi lebih dari sekadar aksesori; ia menjelma sebagai simbol status, gaya, dan keanggotaan dalam sebuah subkultur. Pada saat itu, memiliki topi Kangol berarti menjadi bagian dari arus budaya urban yang sedang naik daun.
Mode Global dan Kolaborasi Modern
Seiring perkembangan zaman, Kangol tidak berhenti pada hip-hop. Merek ini masuk ke ranah fashion global melalui kolaborasi dengan desainer ternama, seperti Marc Jacobs hingga Supreme. Kolaborasi ini memperkuat posisi Kangol di antara generasi muda yang selalu mencari tren baru, tetapi tetap ingin memiliki sentuhan klasik.
Kesimpulan
Kangol bukan sekadar topi, melainkan simbol budaya pop lintas generasi. Dari prajurit Inggris, band legendaris The Beatles, rapper LL Cool J, hingga desainer kontemporer, Kangol telah melewati perjalanan panjang yang membuktikan kekuatan branding dan nilai budaya di balik sebuah produk fashion.
Keistimewaan Kangol terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas. Ia berhasil masuk ke berbagai subkultur sekaligus mempertahankan statusnya sebagai item fashion yang ikonik.
Bagi sebagian orang, memakai Kangol mungkin sekadar melengkapi gaya. Namun, bagi yang memahami sejarahnya, Kangol adalah pernyataan: sebuah penghubung antara tradisi, musik, mode, dan identitas.